<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7723341115378919168</id><updated>2012-02-16T13:11:51.873-08:00</updated><category term='Menulis'/><category term='Resensi'/><category term='Buku'/><category term='Ringan-Ringan Saja'/><title type='text'>Rumah Dunia Maya</title><subtitle type='html'>Jejak-jejak tulisan Doan Widhiandono</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://doanwidhiandono.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7723341115378919168/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doanwidhiandono.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Doan Widhiandono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16646481805158330052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Y81rCXLmejs/STDHMJg1xwI/AAAAAAAAAAM/AGZouU20S9k/S220/BrownDoan.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>7</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7723341115378919168.post-954704157530911222</id><published>2009-01-31T22:58:00.000-08:00</published><updated>2009-01-31T23:06:49.244-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menulis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ringan-Ringan Saja'/><title type='text'>Teori Relativitas dan Masa Studi Seorang Mahasiswa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Y81rCXLmejs/SYVJSZj6SsI/AAAAAAAAABA/he7iEeIiQco/s1600-h/einstein.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Y81rCXLmejs/SYVJSZj6SsI/AAAAAAAAABA/he7iEeIiQco/s320/einstein.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297721117119236802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu saya terlibat dalam sebuah percakapan hangat di pagi hari dengan orang tua seorang rekan saya. Beliau mengatakan, alangkah enaknya mereka yang mampu menyelesaikan kuliah secara cepat. Beliau juga mengatakan bahwa anaknya hingga kini masih betah duduk di bangku kuliah walaupun sudah lima tahun ia berstatus sebagai mahasiswa. Saya cuma tersenyum dan mengatakan bahwa aktivitas yang dimiliki anaknya begitu banyak dan bermanfaat sehingga wajar jika kuliahnya molor. Dalam hati saya sebenarnya iri juga dengan anaknya. Begitu banyak aktivitas kawan saya itu sehingga ketenarannya hanya mampu dikalahkan oleh seorang Pembantu Dekan. Dengan banyaknya aktivitas yang semuanya saya nilai bernilai positif, saya menjadi tidak mampu mengatakan apakah masa studi yang telah ditempuh oleh rekan saya itu panjang ataukah pendek.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;X = 2n-1&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Melihat rumus di atas, para mahasiswa pasti menjadi sedikit bingung. Mahasiswa dari fakultas teknik sibuk membuka referensi Calculus mereka, sementara rekan mereka di MIPA sibuk menganalisis dengan menggunakan teori yang mereka dapatkan dari para dosen. Mahasiswa fakultas ekonomi atau administrasi niaga mungkin sedang sibuk mencocokkan rumus tersebut dengan rumus pertumbuhan ekonomi suatu negara, dan mahasiswa pertanian dan peternakan mencoba mengkaitkan dengan apa-apa yang mereka ketahui berkaitan dengan angka-angka tersebut. Tidak ketinggalan pula para mahasiswa dari fakultas hukum, jurusan administrasi negara atau pun dari jurusan bahasa juga pasti sibuk……..bertanya pada rekan mereka di fakultas teknik : “ Rumus apa sih itu….?”. Sementara para pejabat universitas atau pun fakultas termasuk staff pengajaran cuma akan tersenyum. “Itu kan rumus untuk menentukan batas akhir masa studi….”.&lt;br /&gt; Memang. Itu adalah rumus untuk mengetahui batas waktu masa studi seseorang dalam menempuh studi. X adalah batas waktu studi dan “n” adalah standar masa studi pada program studi yang bersangkutan. Untuk mahasiswa diploma III, n = 3 tahun dan strata 1 = 4 tahun.&lt;br /&gt; Tepat sekali. Rumus tersebut menjadi tolok ukur seseorang dalam menempuh pendidikan. Ada batas waktu tertentu di mana seorang mahasiswa ditoleransi dalam menikmati masa belajarnya di kampus yang begitu ia cintai. Namun dapatkah rumus tersebut mencari jawaban pertanyaan berikut :&lt;br /&gt;- Apakah 4 tahun merupakan waktu yang pendek bagi seseorang dalam menempuh studi di perguruan tinggi?&lt;br /&gt;- Apakah 3,5 tahun menjadi tolok ukur keberhasilan studi seorang sarjana?&lt;br /&gt;- Apakah 5 tahun atau 6 tahun merupakan waktu yang lama bagi mahasiswa untuk berkutat dengan kehidupan kampus?&lt;br /&gt;Jika kita masih di bangku SMU atau di bawahnya, mungkin pertanyaan itu dapat kita jawab dengan mudah. Namun……ini kuliah bung….!! Seperti pernah dikatakan oleh Smith dan Raeper (2000:184), ketika menjelaskan teori relativitas Einstein : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ruang absolut dan waktu absolut tidak lagi mungkin – teori relativitas telah menggantikannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; Teori relativitas, itulah yang harus kita gunakan dalam menganalisis jangka waktu seorang mahasiswa dalam menempuh pendidikan dan memperoleh pengajaran di bangku kuliah. Teori Relativitas. “Karya” ini dilahirkan dari otak seorang jenius yang dilahirkan di kota Ulm, Jerman, Albert Einstein. Karya besar yang pernah mengguncangkan rimba persilatan para ilmuwan fisika ini diawali Einstein dengan sebuah pertanyaan sederhana : Apa yang terjadi bila kita bergerak pada kecepatan cahaya ?&lt;br /&gt;Bayangkan seandainya kita berada pada sebuah roket yang mampu bergerak sangat cepat, hampir separo kecepatan cahaya, dan kita meninggalkan rekan kita sendirian berada di bulan, menuju bumi. Seorang rekan kita yang lain berada di bumi dan menyalakan lampu senter yang dapat dilihat, baik dari roket kita atau pun oleh rekan di bulan tersebut. Lalu masing-masing dari kita, yang di roket dan di bulan diminta untuk menyetel jam tepat pada waktu kita melihat tanda senter dari bumi menyala.&lt;br /&gt;Apa yang terjadi ? Tentu saja jam di roket dan di bulan tidak akan menunjukkan waktu yang sama. Keduanya benar ; keduanya berbeda. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Maka, waktu tidak sama di setiap tempat ; waktu tergantung pada seberapa cepat Anda bergerak dan apa yang Anda gerakkan salam hubungan dengan itu. Semakin cepat Anda bergerak menuju kecepatan sinar, semakin lambat waktu berjalan ( Smith dan Raeper, 2000 : 184)&lt;/span&gt;.&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Bingung ? Mungkin. Einstein sendiri pernah mengatakan bahwa di dunia ini hanya ada dua belas orang yang benar-benar memahami teori relativitasnya, meskipun ribuan buku telah ditulis untuk mencoba menerangkannya. Dan dari dua belas orang tersebut sudah pasti saya tidak termasuk di antaranya.&lt;br /&gt;Tapi jangan khawatir. Einstein telah mengantisipasinya, agar orang-orang seperti saya mampu memahaminya, ia menerangkan relativitasnya itu dengan lukisan sederhana : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jika Anda duduk di samping seorang wanita cantik selama satu jam, Anda menganggapnya satu menit, akan tetapi jika Anda duduk di atas sebuah tungku panas selama satu menit, maka seperti satu jam (Carnegie,1983 : 9)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Penjelasan yang cukup memuaskan bagi orang seperti saya !&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Bulan ini, ribuan mahasiswa baru akan menyemut memasuki kancah kehidupan yang baru, yang mereka idam-idamkan sehingga mereka harus menempuh jalan perjuangan panjang untuk sekadar memasuki sebuah wilayah bernama kampus. Berlaksa cita-cita digantungkan dan beribu harapan coba untuk diraih. Tapi untuk sebuah pertanyaan sederhana : Apa yang akan Anda lakukan ketika menjadi seorang mahasiswa ? Belum tentu semua mempunyai jawabnya. Atau berapa lama Anda berencana tinggal menetap dalam sebuah status bernama mahasiswa ? Apakah jawaban Anda akan berkisar pada jumlah tahun, ataukah jawaban Anda akan mengisyaratkan tercapainya tujuan atau target Anda ? Aku ingin menjadi mahasiswa hingga aku menjadi ketua sebuah organisasi X atau menjadi Presiden sebuah badan Y!&lt;br /&gt;Itu semua akan kembali pada tangan Anda masing- masing. Yang jelas kehidupan dan dinamika kampus tidak akan mampu Anda ukur dengan ukuran waktu yang absolut. Semakin cepat Anda bergerak, semakin Anda merasa waktu yang Anda miliki di kampus tidak banyak. Tapi jika Anda tidak bergerak, Anda akan merasa kampus sebagai sebuah penjara waktu yang tidak akan ada habisnya. &lt;br /&gt;Saya tidak menyarankan Anda para mahasiswa baru untuk berlama-lama tinggal dalam kampus, saya cuma ingin Anda menemukan nilai kampus dan dinamikanya bagi Anda sendiri. Apakah kampus merupakan wanita cantik di mana Anda duduk di sebelahnya, ataukah tungku panas di mana Anda harus duduk diatasnya ? Terserah. Jika kampus adalah wanita cantik, manfaatkan waktumu, kenalilah dia, lakukan pendekatan dan terus bergeraklah. Jika kampus adalah sebuah tungku panas, saya cuma bisa mengatakan jangan lama-lama duduk di situ sebelum pantat Anda gosong dan lengket, sehingga Anda tidak bisa beranjak dari tempat itu.&lt;br /&gt;Selamat untuk para mahasiswa baru, selamat berjuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Sebuah tulisan lawas&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7723341115378919168-954704157530911222?l=doanwidhiandono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doanwidhiandono.blogspot.com/feeds/954704157530911222/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7723341115378919168&amp;postID=954704157530911222&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7723341115378919168/posts/default/954704157530911222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7723341115378919168/posts/default/954704157530911222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doanwidhiandono.blogspot.com/2009/01/teori-relativitas-dan-masa-studi.html' title='Teori Relativitas dan Masa Studi Seorang Mahasiswa'/><author><name>Doan Widhiandono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16646481805158330052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Y81rCXLmejs/STDHMJg1xwI/AAAAAAAAAAM/AGZouU20S9k/S220/BrownDoan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Y81rCXLmejs/SYVJSZj6SsI/AAAAAAAAABA/he7iEeIiQco/s72-c/einstein.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7723341115378919168.post-5526418220043592167</id><published>2009-01-03T16:49:00.000-08:00</published><updated>2009-01-03T17:05:59.354-08:00</updated><title type='text'>Minirtiwikin Djidi Gilijipi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Y81rCXLmejs/SWALapIz2BI/AAAAAAAAAA4/uJ3ncNKEgRc/s1600-h/jadi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 207px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Y81rCXLmejs/SWALapIz2BI/AAAAAAAAAA4/uJ3ncNKEgRc/s320/jadi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5287238514880272402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : HM Cheng Ho Djadi Galajapo; Neraka Wail dan Kue Terang Bulan&lt;br /&gt;Penulis : Bonari Nabonenar dan Kurniawan Muhammad&lt;br /&gt;Penerbit : JP Books Surabaya&lt;br /&gt;Cetakan : I, September 2008&lt;br /&gt;Tebal : xiv + 146 Halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAYA menyambut baik kreativitas H M. Cheng Ho Djadi Galajapo pada bagian Kata Djadi (halaman vii) buku ini. Di situ Djadi memberikan kata sambutan menggunakan huruf vokal ''i'' seluruhnya.&lt;br /&gt;Menurut pelawak dedengkot grup kocak Galajapo tersebut, pemakaian huruf ''i'' vokal dalam kalimat-kalimatnya adalah salah satu bentuk penghematan. Selain itu, huruf ''i'' dipilih lantaran pengucapannya tak perlu membuka mulut lebar-lebar. Menurut Djadi, membuka mulut secara lebar mengesankan sebagai orang yang sombong.&lt;br /&gt;Meski begitu, sebagian orang boleh jadi merasa tidak nyaman mengucapkan kalimat-kalimat yang hanya menggunakan vokal ''i''. Kalimat yang semua menggunakan huruf vokal ''i'' membikin orang tampak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mringis &lt;/span&gt;karena giginya selalu terlihat sedikit (kalau terlihat banyak disebut &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mrongos&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;Bagaimanapun itu adalah salah satu bentuk kampanye seorang pelawak yang tujuan utamanya membuat orang tertawa, mengocok perut pembaca bukunya. Bukan untuk merusak tata bahasa Indonesia yang baik dan benar atau membuat orang menjadi meringis semuanya.&lt;br /&gt;Dan ternyata, saat kampanye pemakaian satu huruf vokal tersebut saya terapkan untuk judul resensi ini, rasanya juga nggak pas. Karena itu, untuk pembaca yang merasa risi atau aneh pada judul tulisan ini, saya beri tahu: judul asli resensi ini adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Menertawakan Djadi Galajapo&lt;/span&gt;.&lt;div class="fullpost"&gt;***&lt;br /&gt;DALAM kamus besar bahasa Indonesia, ''menertawakan'' dimasukkan sebagai salah satu lema (entry). Artinya ada beberapa. Yaitu: tertawa terhadap; tertawa karena; menghina atau mengejek; dan menyebabkan tertawa.&lt;br /&gt;Buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Neraka Wail dan Kue Terang Bulan&lt;/span&gt; ini bisa mencakup semua makna kata ''menertawakan'' tersebut (kecuali menghina atau mengejek, tentu). Lewat kisah-kisah yang terangkum dalam buku setebal 146 halaman plus ini, Djadi Galajapo ingin ''menertawakan pembaca''. Artinya, ia ingin membuat masyarakat tertawa. Dan, rasanya, lantaran Djadi adalah seorang pelawak, itulah tujuan utama buku terbitan JP Books, Surabaya, ini. Yakni, menertawakan orang.&lt;br /&gt;Karena itu, mulailah dia meramu buku dengan kisah-kisah getir kehidupan seorang Djadi Galajapo dan meraciknya dengan tata bahasa dan gaya bertutur yang ringan dan kocak khas pelawak.&lt;br /&gt;Racikan itu memang harus pas. Sebab, sebagian besar kisah yang diusung Djadi memang bukan kisah kocak. Justru, banyak kisah hidup Djadi yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ngenes&lt;/span&gt;, susah, pahit, atau menderita yang diceritakan ke pembaca. Misalnya, bagaimana kisahnya ketika merintis karir di dunia lawak dengan menjalani audisi di sebuah bengkel mobil; bagaimana dia harus hidup tersia-sia oleh mertuanya (bahkan, Djadi mengisahkan bahwa dia pernah mengumpati mertuanya lantaran begitu jengkel karena terus-menerus disia-siakan). Atau bagaimana Djadi harus sembunyi-sembunyi melawak karena takut ketahuan embah-nya yang mengutukinya dengan ''neraka wail'' jika Djadi terus mengocok perut orang di atas panggung.&lt;br /&gt;Kisah penderitaan Djadi itu seakan mengamini pendapat sebagian besar masyarakat yang menyebut bahwa komedian besar Indonesia selalu lahir dari keluarga yang menderita. Seorang pelawak harus selalu ditempa dengan jalan hidup yang begitu berliku dan begitu keras, begitu menyakitkan. Buku Djadi menunjukkan itu.&lt;br /&gt;Bagaimanapun, kisah-kisah itu memang harus diselaraskan dengan tujuan buku tersebut. Yakni, menertawakan orang atau membuat orang tertawa. Itu susahnya. Sebab, jika cerita masa lalu yang getir tersebut tidak diramu dengan tata kalimat yang cocok, alih-alih tertawa dan memetik hikmahnya, orang malah mengharu-biru dan menangis-nangis saat membaca buku Djadi. Bisa jadi, saat Djadi manggung, orang tidak lagi bakal tertawa namun malah menyantuninya.&lt;br /&gt;Namun, Djadi tidak hanya ''menjual'' kisah sedih. Cerita sukses, kisah lucu, cerita inspiratif, hingga ide dan pemikiran soal perkembangan dunia lawak dan keartisan lokal pun terselip dalam 29 bab buku ini. Sebut saja saat dia memenangkan ciuman pertama seorang gadis bernama Ana (Meliana Prasetyaningsih Fatchul Jannah) yang akhirnya dinikahi dan memberinya dua anak perempuan. Kisahnya terasa romantis, sedikit erotis, meskipun perjalanan biduk rumah tangganya kerap dipenuhi tangis. Djadi membuktikan bahwa dia bisa menjadi Arjuna (bukan Hanoman seperti kata Kelik Pelipur Lara dalam kata pengantar buku) bagi Ana.&lt;br /&gt;Salah satu yang patut diacungi jempol adalah kejujuran Djadi mengungkapkan hal-hal yang bagi sebagian orang dikategorikan sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;wadi&lt;/span&gt; (rahasia paling pribadi). Tentu itu semua ada maksudnya. Bukan hanya lantaran namanya adalah Sudjadi yang bisa jadi akronim dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suka Djual Wadi&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Salah satu kejujurannya yang paling jujur (baca: paling berani) adalah pengakuannya soal nyaris berzina dengan seorang penyanyi yang kebetulan sedang manggung bersama Djadi di Pekalongan. Ceritanya, Djadi dan penyanyi itu menginap (atau diinapkan) sekamar. Pada suatu malam (menurut versi Djadi), penyanyi itu menggodanya. Terjadilah pergumulan dahsyat. Saat semuanya sudah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;muntup-muntup&lt;/span&gt;, Djadi (katanya) tiba-tiba sadar. Dia pun mengambil handuk dan menutup perut penyanyi cewek yang cantik dan menggoda itu.&lt;br /&gt;Cerita ini, asli jujur, dan polos. Entah apa reaksi istri Djadi saat mendengar cerita tersebut untuk kali pertama. Yang ini, tidak ada di buku.&lt;br /&gt;Yang patut jadi catatan, buku ini tidak bisa 100 persen memindahkan kelucuan seorang Djadi Galajapo di atas panggung. Memang, mengadopsi humor lisan ke dalam bahasa tulisan bukan pekerjaan yang gampang. Penulis (Bonari Nabonenar dan Kurniawan Muhammad) pun tampaknya menyadari hal itu, sehingga sebelum dikritik kiri-kanan, mereka sudah meminta maaf dalam pengantar buku bahwa mereka takut tidak bisa menyuguhkan tulisan yang cukup lucu.&lt;br /&gt;Penulis bukan cuma minta maaf pada hal itu. Mereka juga &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nyuwun sorry&lt;/span&gt; karena buku itu disusun dalam waktu singkat. Dalam hitungan pekan, mereka mewawancarai Djadi Galajapo lantas menyusun serpih-serpih ingatan dan pijar-pijar kesan, dan catatan-catatan Djadi atas perjalanan hidupnya sebagai manusia (halaman viii).&lt;br /&gt;Itu, tampaknya betul, kesan kesusu pada buku ini tak bisa sirna begitu saja. Kadang ada kalimat yang kurang sedap dilahap, ada judul bab yang pemenggalan katanya tidak pas, atau teks foto yang terasa dipasang serampangan.&lt;br /&gt;Salah satu yang cukup terasa adalah pemilihan foto yang dipakai sebagai ilustrasi. Buku ini memang konsisten menghadirkan satu foto Djadi di awal bab plus beberapa foto di tengah-tengah bab. Nah, ada banyak sekali foto daur ulang. Misalnya, foto pelengkap bab yang diambil wajah Djadi-nya saja lalu dipasang di awal bab lain. Itu terjadi berulang ulang.&lt;br /&gt;Tapi, seperti diakui kedua penulis, buku tersebut jadi dalam hitungan pekan. Mungkin, Djadi tidak sempat melakukan sesi foto khusus --berbagai pose-- untuk melengkapi buku itu sebagai ilustrasi antarbab.&lt;br /&gt;Dan, penulis menyadari berbagai kekurangan itu. Sekali lagi, mereka membuka buku ini dengan permintaan maaf atas kekurangan-kekurangan itu. So, khusus soal kekurangan ini, jangan ditertawakan. (*)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Catatan: Resensi ini dimuat di Jawa Pos, Minggu, 4 Januari 2009&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7723341115378919168-5526418220043592167?l=doanwidhiandono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doanwidhiandono.blogspot.com/feeds/5526418220043592167/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7723341115378919168&amp;postID=5526418220043592167&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7723341115378919168/posts/default/5526418220043592167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7723341115378919168/posts/default/5526418220043592167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doanwidhiandono.blogspot.com/2009/01/minirtiwikin-djidi-gilijipi.html' title='Minirtiwikin Djidi Gilijipi'/><author><name>Doan Widhiandono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16646481805158330052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Y81rCXLmejs/STDHMJg1xwI/AAAAAAAAAAM/AGZouU20S9k/S220/BrownDoan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Y81rCXLmejs/SWALapIz2BI/AAAAAAAAAA4/uJ3ncNKEgRc/s72-c/jadi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7723341115378919168.post-2575403840226393420</id><published>2009-01-02T17:07:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T17:27:41.781-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Dokter dan Tulisannya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Y81rCXLmejs/SV68JtQAs5I/AAAAAAAAAAw/QA16ZKCp1OU/s1600-h/DSC_0061.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 221px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Y81rCXLmejs/SV68JtQAs5I/AAAAAAAAAAw/QA16ZKCp1OU/s320/DSC_0061.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286869887531135890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;SAAT saya SD dulu, sekitar kelas 1 atau kelas 2, seorang guru saya mengatakan bahwa suatu saat saya akan jadi dokter. Bukan karena saya termasuk murid pandai (saya adalah siswa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tengahan&lt;/span&gt;; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pinter nggak begitu&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;bodo&lt;/span&gt; juga &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nggak &lt;/span&gt;terlalu). ’’Doa’’ bahwa saya akan menjadi dokter itu muncul lantaran tulisan saya begitu jelek. Acak-acakan. Cakar ayam, kata guru saya itu.&lt;br /&gt; Memang, teman-teman saya, terutama yang wanita, bisa menulis dengan indah. Tulisannya bulat-bulat, enak dibaca. Sedangkan tulisan saya begitu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ceper&lt;/span&gt;, huruf-hurufnya saling berimpitan, dan bentuk hurufnya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nggak &lt;/span&gt;keruan. Tak pelak, saya sering dihukum oleh guru saya menulis di buku halus. Itu adalah istilah untuk buku latihan menulis yang garis-haris halamannya didesain tebal-tipis sebagai panduan membuat besar-kecil huruf.&lt;br /&gt; Tulisan saya memang lebih membulat, tidak lagi ceper. Tapi, tetap, kata guru saya, tulisan saya jelek dan tidak terbaca. Seperti tulisan dokter! Jeleknya tulisan tangan saya berlangsung terus sampai sekarang, saat saya jadi wartawan. Untuk menutupi rasa malu lantaran tulisan cakar ayam itu, saya sering bergurau ke rekan-rekan saya di lapangan dulu, bahwa saya adalah satu-satunya wartawan modern yang menguasai stenografi.&lt;div class="fullpost"&gt;Bagaimanapun, guru saya benar. Tulisan dokter itu jelek-jelek. Tidak terbaca. Baik di resep maupun di catatan medis yang mereka bikin. Di Malang ada seorang dokter langganan saya yang begitu suka menulis. Setiap kali menyentuhkan stetoskop satu-dua kali, dia menulis di notes kecil seperti milik anak SD. Tulisannya jelek betul. Miring-miring dan ceper tidak karuan. Tulisan di resep juga tidak berbeda. Tidak bisa saya baca. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hmm&lt;/span&gt;, benar kata guru saya: tulisan dokter itu jelek.&lt;br /&gt; Kata teman saya, seorang dokter yang pernah menjadi wartawan di Jawa Pos, tempat saya bekerja, tulisan seorang dokter memang sengaja dibuat jelek. Katanya, itu agar resep yang dibuat tidak dipalsu orang, obat yang diresepkan tidak diduplikat oleh pasien, atau catatan yang dibuat tidak dibaca orang yang tidak berkepentingan. Kalau catatan itu terbaca orang lain, bisa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;berabe&lt;/span&gt;!&lt;br /&gt; Kawan saya itu betul. Catatan dokter yang terbaca orang bisa sangat mengerikan. Itu saya alami saat istri saya mengandung tiga bulan. Ketika itu, setelah melakukan USG, wajah dokter berubah. Intonasi kata-katanya menjadi lebih tertata. Katanya, tengkorak anak saya belum tumbuh. Dia juga bilang: apa pun kondisi anak saya nanti, itu adalah anugerah Tuhan. Lalu, dia menulis satu kata dalam medical record-nya. Satu kata yang diberi garis bawah dan tanda tanya besar. Saya penasaran. Tapi, sekali lagi, tulisan itu begitu jelek. Saya tidak bisa membacanya.&lt;br /&gt; Saat dokter itu mengambil obat-obatan dan vitamin untuk istri saya, catatan itu saya geser, saya dekatkan ke saya, dan saya balik. Saya coba urai satu per satu huruf yang ditulis dokter itu. Susah payah saya membaca huruf yang gepeng-gepeng itu. Ternyata, mak deg, tulisannya: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hydrocephalus&lt;/span&gt;. Kali ini kawan saya yang dokter itu betul. Tulisan dokter yang terbaca bisa begitu mengerikan. Bisa berabe. Untungnya, rasa ngeri itu berakhir bulan berikutnya. Dokter bilang, anak saya normal. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Alhamdulillah&lt;/span&gt;. Dokter itu lalu mencatat-catat lagi, dan saya tidak mencoba mencuri-curi baca lagi.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nah&lt;/span&gt;, kalau banyak dokter membuat tulisannya jadi jelek agar tidak bisa dibaca orang, dr Robert Arjuna ini lain. Dia membuat tulisannya (karangannya) sebagus dan seindah mungkin agar orang lain bisa membaca. Tentu yang dia bagi-bagi lewat email atau SMS itu bukan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;medical record&lt;/span&gt;, melainkan pengalaman dan pemikirannya. Kadang, dia juga menulis aneka puisi dan kalimat-kalimat renungan. Dan seperti kata banyak orang, puitis sekali seorang Robert Arjuna alias Hera Pelipurlara ini.&lt;br /&gt; Dr Robert sendiri pernah bilang, sisi puitis itu adalah penyeimbang sifat dan kata-katanya yang meledak-ledak. Katanya, hatinya sebenarnya seputih salju. Tapi, jangan lupa, salju bisa membuat orang menggigil serta ’’telur mengkerut’’.&lt;br /&gt; Memang, selain sebagai penulis puisi, dr Robert pernah menjadi wartawan. Dan buku ini buktinya. Dr Robert berupaya meramu ’’ilmu’’ kewartawanannya. Dia berusaha menulis kejadian faktual secara akurat, tertata, logika yang runtut, plus kalimat yang ringan. Itu ilmu dasar seorang wartawan. Ilmu yang menjadi landasan pekerjaan saya.&lt;br /&gt; Kalau mau lebih formal, lantaran ditulis oleh seorang dokter yang mantan wartawan, buku ini juga mampu menjawab amanat Undang-Undang Pers nomor 40/1999. Pada pasal 3 ayat 1, disebutkan bahwa pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Buku ini memang bukan produk pers. Namun, paling tidak, kisah-kisah di dalamnya bisa memenuhi fungsi-fungsi dalam pasal tersebut.&lt;br /&gt;Ada kisah yang punya nilai informasi, ada juga kisah yang mengandung nilai pendidikan, ada kisah yang sangat menghibur, pun ada kisah yang bisa jadi kontrol sosial. Terserah pembaca mengartikan masing-masing kisah tersebut.&lt;br /&gt;Terkait undang-undang pers itu, ternyata buku ini juga memenuhi fungsi yang tercantum dalam pasal 2 ayat 3 undang-undang tersebut. Yakni, fungsi sebagai lembaga ekonomi. Ini betul, buku ini punya fungsi ekonomi, bagi pencetaknya, bagi penerbitnya, bagi pengarangnya, dan terus terang, bagi tim editornya (hehehe).&lt;br /&gt;Saya yakin, dan berharap tentunya (hehehe lagi), buku ini bukan yang pertama. Akan ada banyak buku lagi yang bakal terbit dari dr Robert. Barangkali, bukan buku seperti Dunia Penuh Warna ini. Siapa tahu, dr Robert akan menelurkan buku kedokteran, tentang diabetes, misalnya. Buku kedokteran yang bisa meracik pengalaman faktual menjadi anjuran kesehatan dengan tata bahasa yang ringan, enak dibaca, plus bernuansa humor. Ini sekadar usul, siapa tahu jadi.&lt;br /&gt;Ditilik dari tinjauan pers, kisah-kisah yang tertulis di buku memang terasa kurang lengkap. Ada identitas yang tak dibuka untuk publik. Ada tempat-tempat yang tak diungkap jelas, dan sebagainya. Namun, itu memang tak terlampau penting. Sebab, yang paling utama dalam kisah-kisah tersebut adalah kisah itu sendiri. Interaksi antara dokter dan pasien, kegeraman-kegeraman seorang dokter tentang pasien yang berulah, hingga kelucuan-kelucuan pasien di depan dokternya.&lt;br /&gt;Boleh jadi, semua dokter mengalami itu. Namun, sekali lagi, dokter Robert lain. Kalau bagi dokter lain kisah itu hanya menjadi perbincangan antar-kolega, dr Robert memilih mencatatnya. Dan kalau dokter lain menyembunyikan catatannya, dr Robert memutuskan membuka catatan itu untuk publik. Salut.&lt;br /&gt;Oh ya, saat membantu dr Robert dalam penerbitan buku ini, saya kembali teringat guru saya yang ’’mendoakan’’ saya jadi dokter. Ah, seandainya saya jadi dokter.(*)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Catatan: Tulisan ini saya buat dan sampaikan saat launching dan bedah buku Dunia Penuh Warna, karya dr Robert Arjuna, di Hotel Le Grandeur Jakarta, Sabtu 27 Desember 2008. Saya adalah editor dan menjadi salah satu panelis launching tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7723341115378919168-2575403840226393420?l=doanwidhiandono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doanwidhiandono.blogspot.com/feeds/2575403840226393420/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7723341115378919168&amp;postID=2575403840226393420&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7723341115378919168/posts/default/2575403840226393420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7723341115378919168/posts/default/2575403840226393420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doanwidhiandono.blogspot.com/2009/01/dokter-dan-tulisannya.html' title='Dokter dan Tulisannya'/><author><name>Doan Widhiandono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16646481805158330052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Y81rCXLmejs/STDHMJg1xwI/AAAAAAAAAAM/AGZouU20S9k/S220/BrownDoan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Y81rCXLmejs/SV68JtQAs5I/AAAAAAAAAAw/QA16ZKCp1OU/s72-c/DSC_0061.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7723341115378919168.post-2688733688252760271</id><published>2008-12-19T17:45:00.000-08:00</published><updated>2008-12-19T17:49:45.666-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ringan-Ringan Saja'/><title type='text'>Pindahan Rumah</title><content type='html'>Pindahan rumah memang sangat merepotkan... Sudah pernah merasakannya? Well, rasanya itu lebih mbencekno daripada sekadar pindah kos misalnya. Kadang pindah kos bisa begitu simpel. Cukup membawa dua travel bag berisi baju plus dua kotak mi instan berisi buku-buku. TV, laptop, PlayStation bisa dibawa sambil berboncengan pakai motor kawan.&lt;br /&gt;Tapi, itu kalau kos-kosannya kecil... :D Lha kalau kos-kosannya besar, di dekat kampus swasta atau negeri yang supermewah, yang kamar kos-kosannya kira-kira sebesar rumah tipe 21..? Wah, pindah kos bisa sangat merepotkan. Sama seperti pindahan rumah. Meskipun, kalau si empunya kamar nggak mau repot, dia bisa saja menyewa orang dan tukang angkut barang. Tinggal bayar, beres...&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah merasakan repotnya pindah rumah. Dari rumah kontrakan, ke rumah yang sekarang saya tempati bersama anak-istri. Rumah yang harus saya cicil, mulai anak saya masih bayi dan baru lunas hingga dia lulus SMP (hiks...). Saya pindah ke rumah itu pada 2006. Tentu saja, agar irit, saya lakukan prosesi pindahan itu selama sekitar setengah bulan. Setiap hari, saya naik motor membawa 2-3 travel bag yang saya gantung-gantungkan ke bahu dan motor saya. Kadang, ada panci dan wajan yang bergelontangan di tangki motor saya. Kadang ada 1-2 buku yang jatuh saat saya melewati polisi tidur yang mbencekno. Namun, prosesi itu memang harus saya tempuh dalam perjuangan menuju rumah baru. Dan memang, ada beberapa barang yang tak bisa saya angkut pakai motor. Barang-barang yang harus diangkut oleh pemilik mobil carteran yang saya sewa Rp 150 ribu sehari. Barang-barang sebesar kulkas, lemari, atau kasur. Serepot apa pun, pindahan tetap punya sisi-sisi menyenangkan. Terutama jika kita sudah memandangi, merasakan, dan menempati rumah baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang saya lakukan beberapa waktu terakhir ini: pindahan rumah!&lt;br /&gt;Rumah yang sedang saya tata adalah Rumah Dunia Maya di blogspot.com ini. Dan perabot-perabot yang saya angkuti satu per satu adalah tulisan-tulisan yang berserak di mana-mana. Ada yang kececeran di komputer, ada yang di handphone, ada juga yang mengendap di benak hingga menjadi kerak.&lt;br /&gt;Dan asli, pindahan itu merepotkan. Kalau tulisan lawas ketemu, kadang itu sudah tidak update. Seperti perabot kuno yang dijejalkan pada rumah bergaya modern. Kalau sudah membayangkan penataan ruang, eh, tulisannya yang nggak ketemu, hilang tak tentu arah.&lt;br /&gt;Boleh dibilang, dengan memiliki ''rumah baru'' ini, saya ikut-ikutan sebagian pejabat Surabaya yang Go Blog (tulisan tentang ini pernah dimuat di Metropolis Jawa Pos). Soal ngeblog, seorang kawan saya pernah bilang tiga tahun lalu bahwa saya harus bikin blog. Tapi, saya jawab bahwa saya sudah punya ''blog'' yang sangat dahsyat. Kata saya waktu itu, Jawa Pos adalah blog saya. Di situlah tulisan-tulisan saya dimuat, di situ pula tulisan-tulisan saya dibaca banyak orang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, here I am now, tinggal di Rumah Dunia Maya, menuliskan beragam catatan yang semoga bisa dibuat baca-baca.&lt;br /&gt;Semoga... &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7723341115378919168-2688733688252760271?l=doanwidhiandono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doanwidhiandono.blogspot.com/feeds/2688733688252760271/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7723341115378919168&amp;postID=2688733688252760271&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7723341115378919168/posts/default/2688733688252760271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7723341115378919168/posts/default/2688733688252760271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doanwidhiandono.blogspot.com/2008/12/pindahan-rumah.html' title='Pindahan Rumah'/><author><name>Doan Widhiandono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16646481805158330052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Y81rCXLmejs/STDHMJg1xwI/AAAAAAAAAAM/AGZouU20S9k/S220/BrownDoan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7723341115378919168.post-4908098155849031770</id><published>2008-11-09T01:54:00.000-08:00</published><updated>2008-12-19T17:56:38.671-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Delapan Tahun Bersama Sumiarsih</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Y81rCXLmejs/SUxJpRvJIjI/AAAAAAAAAAo/6ym85ZVbyuc/s1600-h/Buku.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 218px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Y81rCXLmejs/SUxJpRvJIjI/AAAAAAAAAAo/6ym85ZVbyuc/s320/Buku.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281677436483346994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku: Mami Rose; Jual Diri, ke Mucikari sampai Eksekusi Mati&lt;br /&gt;Penulis: Ita Siti Nasyi'ah&lt;br /&gt;Penerbit: JP Books Surabaya&lt;br /&gt;Cetakan: I, Juli 2008&lt;br /&gt;Tebal: ix + 180 Halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEANDAINYA makanan, buku ini benar-benar fresh from the oven alias baru saja matang. Disajikannya masih hangat, uapnya masih kemebul. Ada bagian yang terasa kemripik, renyah; ada pula yang rasanya empuk kempus-kempus. Benar-benar mak nyuss!&lt;br /&gt;Ada dua hal yang membuat karya Ita Siti Nasyi'ah itu terasa baru. Yang pertama, tentu saja, jadwal penerbitannya. Hingga pagi ini, buku Mami Rose; Jual Diri, ke Mucikari sampai Eksekusi Mati ini belum genap seminggu dipasarkan secara luas. Bahkan, bisa jadi, belum semua toko buku menjualnya.&lt;br /&gt;Yang kedua, buku ini terasa baru lantaran sangat terkait dengan peristiwa besar yang baru saja menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Yaitu, pelaksanaan eksekusi Sumiarsih dan Sugeng pada Sabtu (19/7) dini hari lalu. Dua terpidana mati pelaku pembunuhan berencana terhadap keluarga Letkol (Mar) Purwanto itu harus menghadap regu tembak setelah 20 tahun menunggu peluru.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Artinya, buku Ita ini memang punya momen yang sangat pas. Betapa tidak, ilham penerbitannya benar-benar muncul secara nyata pada 10 Juni 2008, saat grasi Sumiarsih dan Sugeng ditolak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ita lalu mendapat izin tertulis (tentang penerbitan kisahnya itu) dari Sumiarsih pada 11 Juli 2008. Foto cover buku dijepret pada Kamis (17/7), Sabtunya (19/7) Sumiarsih dan Sugeng didor. Dan, pada Senin (21/7), buku setebal 180 halaman itu sudah selesai dicetak. Benar-benar baru, benar-benar kilat! Tak cuma fresh from the oven tapi fresh from the microwave!&lt;br /&gt;Secara teori jurnalistik, dunia yang dilakoni Ita selama lebih dari 15 tahun, buku ini punya peg (pasak) peristiwa yang kuat. Dalam bahasa sehari-hari para wartawan Surabaya, karya ini onok cantolane (ada kaitan) kejadian yang hangat.&lt;br /&gt;Sebagai wartawan (dari Jawa Pos ke Kartini, Red), Ita tampak memperhitungkan news value (nilai berita) ketika menulis kisah hidup Sumiarsih alias Mami Rose itu. Sebab, buku ini punya magnitude (daya tarik dan gaung yang besar) sebuah peristiwa. Buku tersebut juga punya human interest (sisi kemanusiaan) yang apik, prominence (kedekatan dengan pembaca), timeliness (ketepatan waktu), bahkan tetap aktual.&lt;br /&gt;Ya, meskipun yang disajikan adalah fakta yang sudah berlalu selama lebih dari dua dekade, buku yang diberi kata pengantar CEO/Chairman Jawa Pos Dahlan Iskan tersebut rasanya masih aktual. Ita juga berani memaparkan fakta-fakta baru (versi Sumiarsih) yang sebelumnya tak terungkap di media, bahkan di persidangan sekalipun. Ibarat koki, lulusan Stikosa-AWS itu tak cuma memasukkan makanan dingin ke microwave agar bisa kembali hangat dalam waktu singkat. Tapi, dia juga menambahinya dengan bumbu-bumbu segar, sehingga makanan itu bisa kembali panas plus rasanya baru.&lt;br /&gt;Bumbu baru itu memang sangat perlu. Sebab, pembunuhan keluarga Purwanto terjadi pada 1988. Sebagian besar orang sudah lupa kasus itu. Bahkan, ada generasi yang benar-benar tidak tahu soal kasus pembunuhan yang menggemparkan tersebut. Begitu lamanya kasus itu sehingga Sumiarsih yang menunggu hukuman selama 20 tahun pun menjadi sosok legendaris di Lapas Wanita Malang. Setiap ada napi baru masuk, mereka selalu dikenalkan kepada Sumiarsih, wanita pelaku pembunuhan berencana yang sedang menunggu hukuman mati.&lt;br /&gt;Beberapa bumbu penting dalam buku ini adalah penggambaran sosok Purwanto, korban kekejian Sumiarsih cs, plus latar belakang pembantaian keluarga yang menghebohkan itu. Selama ini, lewat berita-berita di media massa, Sumiarsih dikesankan sebagai sosok yang begitu keji, tak berperikemanusiaan, bahkan tak layak hidup.&lt;br /&gt;Arsip koran dua dekade silam juga memosisikan Sumiarsih sebagai otak pembunuhan itu, sebagai public enemy yang tak layak dimaafkan. Sumiarsih begitu tega mencabut nyawa Purwanto, seorang perwira Angkatan Laut yang terhormat, beserta keluarganya, serta menyusun skenario jahanam menghilangkan jejak dengan cara membakar mayat dan membuang para korbannya di jurang Songgoriti, Batu. Semua kebiadaban itu dilakukan ''hanya'' lantaran utang Rp 36 juta Sumiarsih kepada Purwanto. Karena itu, masyarakat pun bersorak gembira saat Sumiarsih, Djais Adi Prayitno (suami), Sugeng (anak), dan Adi Saputra (menantu) divonis mati. Vonis tersebut memang tak menghidupkan kembali nyawa keluarga Purwanto. Namun, kala itu, masyarakat puas lantaran putusan hakim dianggap memenuhi unsur keadilan.&lt;br /&gt;Buku ini menjelaskan secara jelentreh awal mula tragedi memilukan tersebut. Penuturannya pun runtut mulai flash back seorang Sumiarsih muda yang menjadi kembang di desanya, Ploso, Jombang. Bak kisah klasik, kecantikan Sumiarsih ternyata tak membawanya menuju kebahagiaan. Justru, kecantikan yang dibelit kemiskinan itu ''menjerumuskan'' Sumiarsih dalam jurang kesengsaraan. Dia akhirnya menjalani hidup sebagai hostes (purel) kelab malam di Jakarta. Dalam perjalanannya, dia menjadi istri gelap seorang pengusaha. Dari hubungan itu lahirlah Rose Mey Wati, putri bungsu Sumiarsih yang mewarisi kecantikannya.&lt;br /&gt;Langkah gelap Sumiarsih tak berhenti di situ. Dia lantas hijrah ke Surabaya dan mendirikan rumah bordil yang sangat laris di Gang Dolly. Dan, Purwanto, menurut versi Sumiarsih, menjadi salah satu pelanggan wisma itu. Bahkan Purwanto lalu tertarik mengajak Sumiarsih untuk berkongsi mengelola wisma esek-esek. Itulah awal petaka tersebut. Lantaran wisma sepi, Sumiarsih terlambat setor ke Purwanto. Dalam sekejap Sumiarsih terlilit utang yang terus beranak-pinak.&lt;br /&gt;Kelanjutan kisah tersebut begitu mencengangkan, begitu kontroversial karena tak pernah terungkap ke permukaan sebelumnya. Dalam menagih utang, Purwanto ternyata berlaku bak preman. Sumiarsih tak cuma diancam, tapi juga dipukuli, disundut rokok, dan dihina harkat kewanitaannya. Yang membuat Sumiarsih akhirnya gelap mata dan hilang pikiran adalah niat Purwanto yang ingin ''mengambil'' salah satu harta terbesar Sumiarsih, yaitu Rose Mey Wati, putrinya yang cantik.&lt;br /&gt;Fakta buku yang didapat dari delapan tahun (2000-2008) persabahatan Ita dan Sumiarsih itu memang tak hendak menyajikan alasan pembenar pembunuhan Purwanto. Bukan pula untuk memprovokasi pembaca agar bersimpati dan berempati kepada Sumiarsih. Yang terang, buku ini cukup berani menyajikan fakta yang tersembunyi selama dua dekade. Bahkan, dalam setiap sidang, Sumiarsih tak pernah menunjukkan fakta bahwa Purwanto telah menekan dan menganiayanya secara fisik maupun mental. Meskipun, itu bukan faktor pemaaf, saya pribadi yakin bila fakta-fakta itu terungkap dalam persidangan dulu, kemungkinan bisa meringankan hukuman Sumiarsih. Paling tidak, dia ''hanya'' dihukum 20 tahun atau seumur hidup.&lt;br /&gt;Memang, karya Ita ini punya daya tarik yang kuat lantaran kepekaannya memanfaatkan momentum. Namun, dalam hal ini, momentum dan kesusu (tergesa-gesa) berada dalam batas yang amat tipis. Sebab, kesan kesusu tak bisa dihindari dalam buku ini. Salah satunya soal penyuntingan (editing) yang tak rapi. Ada begitu banyak kesalahan ejaan, tata kata dan kalimat yang serampangan, hingga gaya penceritaan orang pertama dan orang ketiga yang melompat-lompat. Sangat disayangkan memang, buku bagus ini diwarnai kesalahan-kesalahan yang tidak perlu (memangnya ada kesalahan yang perlu?).&lt;br /&gt;Buku ini bisa tampil lebih cantik seandainya lebih diperkaya dengan foto-foto masa lalu Sumiarsih. Selain membuat buku lebih warna-warni, keragaman foto juga menunjukkan kedekatan dan eksklusivitas Ita dalam kehidupan Sumiarsih alias Mami Rose. (*)&lt;br /&gt;--- &lt;br /&gt;Tulisan ini dimuat di Jawa Pos, Minggu, 27 Juli 2008&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7723341115378919168-4908098155849031770?l=doanwidhiandono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doanwidhiandono.blogspot.com/feeds/4908098155849031770/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7723341115378919168&amp;postID=4908098155849031770&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7723341115378919168/posts/default/4908098155849031770'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7723341115378919168/posts/default/4908098155849031770'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doanwidhiandono.blogspot.com/2008/11/delapan-tahun-bersama-sumiarsih.html' title='Delapan Tahun Bersama Sumiarsih'/><author><name>Doan Widhiandono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16646481805158330052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Y81rCXLmejs/STDHMJg1xwI/AAAAAAAAAAM/AGZouU20S9k/S220/BrownDoan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Y81rCXLmejs/SUxJpRvJIjI/AAAAAAAAAAo/6ym85ZVbyuc/s72-c/Buku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7723341115378919168.post-681017295754336786</id><published>2008-11-08T23:21:00.000-08:00</published><updated>2008-12-19T18:03:25.077-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menulis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ringan-Ringan Saja'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Ruma Sekola yang Saya Impiken</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tulisan ini dimuat di halaman Metropolis-Jawa Pos, sekitar akhir September (tanggal pemuatan masih ada di tulisan, hehehe). Pada bulan-bulan itu, Metropolis menurunkan berita investigatif tentang fenomena ijazah instan di Surabaya. Ada kampus yang terbukti (berdasar hasil investigasi tim Jawa Pos) memperjualbelikan ijazah. Bagaimana hasil akhirnya? Well, hingga tulisan di blog ini muncul, polisi masih menyelidiki.&lt;br /&gt;Anyway, ini pemikiran saya soal indikasi maraknya ijazah instan dan fenomena-fenomena ikutan lainnya di masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;===========================&lt;br /&gt;[ Kamis, 25 September 2008 ]&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ruma Sekola yang Saya Impiken&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: Doan Widhiandono &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;JUDUL tulisan ini saya ambil dari sebuah esai berbentuk cerpen yang dimuat koran Sin Bin di Bandung pada Agustus 1925. Ruma Sekola yang Saya Impiken ditulis oleh Kwee Tek Hoay, pengarang cukup produktif sebelum zaman Balai Pustaka.&lt;br /&gt;     Kisahnya sederhana dengan ending yang, bisa jadi, membuat nggondok sebagian pembacanya. Ngglethek, kalau arek Suroboyo bilang. Se-ngglethek cerita-cerita Cak Kartolo, seniman idola saya, yang memang menguasai ''ilmu ngglethek'' itu.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;     Cerita itu kira-kira begini:&lt;br /&gt;     Suatu waktu, Kwee Tek Hoay didatangi seorang kawannya yang akan menyekolahkan anaknya. Si kawan minta saran mengenai sekolah yang dirasa pas buat sang anak. Si kawan yang saudagar batik itu ingin anaknya sekolah di tempat yang cocok sehingga bisa sukses hidupnya.&lt;br /&gt;     Kwee Tek Hoay dimintai saran lantaran dia pernah bersekolah di Tiongkok. Kwee Tek Hoay menuntut ilmu di beberapa Tiong Hoa Hak Tong di Jawa. Dia lantas merantau kuliah di Khay Lam Hak Tong, Tiongkok. Setamat sekolah dagang itu, dia berlajar di Shanghai College of Commerce lalu kembali ke Jawa.&lt;br /&gt;     Sejatinya, Kwee Tek Hoay merasa kalut ketika dimintai saran oleh kawannya. Sebab, dia sendiri merasa ilmu dalam perkuliahannya tak aplikatif. Hasil kuliahnya justru membuat dia menjadi pegawai rendahan di sebuah bank Tionghoa. Kalau diterapkan dalam perdagangan langsung, ilmu itu mati kutu. Saking matinya, Kwee Tek Hoay masih kalah dengan jongos pribumi yang sudah bekerja selama 12 tahun. Padahal, si jongos itu tak kuliah dan tak punya gelar apa pun.&lt;br /&gt;     Dalam kekalutan, Kwee Tek Hoay menemukan sekolah istimewa. Namanya, Nanyang Institute. Sekolah tersebut menerapkan sistem pelajaran yang nyeleneh untuk ukuran saat itu. Sekolahnya full day school. Siswanya tak hanya diajar di dalam kelas. Siswa langsung diajari dagang, membatik, memilih sayur mayur, mendirikan kongsi (semacam koperasi siswa), dansa, hingga filsafat asing dan Tiongkok. Semuanya aplikatif untuk dunia dagang masyarakat Tionghoa. Sekolah itu juga multilingual. Siswa diajari bahasa Inggris, kuo yu (Tiongkok), hingga Belanda dan Melayu.&lt;br /&gt;     Nah, saat mendengarkan siswa bermain musik, Kwee Tek Hoay terlena hingga tertidur. Sapaan kawannya membangunkannya, menyadarkan Kwee Tek Hoay bahwa sekolah unggul itu hanya mimpi di siang bolong. Sekola yang rapi dan sampurna blon ada terlahir ka dunia, hanya baru tercipta di astraal gebied atawa di dunia alus, tulisnya.&lt;br /&gt;     Ngglethek! Cerita yang panjangnya sekitar 30 halaman itu ternyata hanya mengisahkan mimpi. Kalau cerita itu ditulis Cak Kartolo dan dibaca Munawar, barangkali Munawar akan bersungut-sungut, ''Tiwas moco! Mene-mene, ngimpine disikno (Terlanjur membaca! Besok-besok, mimpinya dahulukan)!''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;     Memang, gap antara kampus dan dunia kerja sudah menjadi perdebatan sejak lama. Kritik Kwee Tek Hoay tentang kampus yang tak bisa menyediakan tenaga siap pakai itu, misalnya, sudah berumur 83 tahun. Dan hingga sekarang, perdebatan itu masih afdol. Masih banyak kritik bahwa kampus belum dapat mencetak karyawan-karyawan siap pakai. Yang disediakan kampus, paling banter, adalah orang-orang dengan gelar sarjana, dengan selembar ijazah yang kadang tak begitu berarti di dunia kerja. Sarjana yang kerap tergagap-gagap saat harus bertarung di ''dunia nyata''.&lt;br /&gt;     Namun, cara pandang terhadap ijazah memang tak banyak berubah. Lembaran kertas itu masih ''sakral''. Ijazah bisa mengubah jalan hidup seseorang. Ijazah bisa menentukan tinggi-rendahnya gaji karyawan. Ijazah bisa mempercepat laju kepangkatan seseorang. Ijazah dengan gelar yang berderet-deret bisa menaikkan gengsi orang.&lt;br /&gt;     Begitu berharganya ijazah, sehingga sebagian mahasiswa mengubah cara pandang mereka di dunia kampus. Bukan ilmu yang mereka kejar. Namun ijazah. Lebih mbencekno, ada orang yang mau mengejar ijazah saja tanpa harus mau menjadi mahasiswa. Dan yang paling mbencekno, ada kampus yang bisa kongkalikong menyediakan selembar ijazah secara instan. Asal ada fulus, gelar bisa didapat tanpa belajar bertahun-tahun. Sebuah barter antara gengsi dan pelacuran pendidikan.&lt;br /&gt;     Selama beberapa lama, ijazah instan itu cuma menjadi ''kentut'' di masyarakat. Tak bisa dilihat, tapi bisa dirasakan. Baunya busuk.&lt;br /&gt;     Tulisan di Metropolis sejak 18 September mengungkap salah satu kampus yang ''kentut''. Meskipun, kampus itu menyatakan bahwa yang ''kentut'' adalah salah satu oknum yang tak ada hubungannya dengan institusi pendidikan tersebut.&lt;br /&gt;     Setelah tulisan itu turun, semua pada geram. Semua pada mengutuk. Kopertis memerah telinganya, polisi siap-siap turun tangan. Kalangan kampus ramai-ramai menghujat. Semua ingin praktik lancung itu distop.&lt;br /&gt;     Namun, menghentikan jual beli ijazah secara instan itu tak mudah. Di dalamnya tak hanya berlaku hukum formal. Yang membuat aksi itu tetap langgeng adalah hukum pasar. Selama ada orang yang perlu ijazah secara cepat, pasti ada institusi yang menyediakan surat tanda lulus secara instan. Selama ada orang yang ingin menaikkan gengsi dengan cara menambah deretan gelar, pasti ada kampus yang berani obral gelar. Di sini, fulus yang berbicara.&lt;br /&gt;     Maka, kampanye memerangi ijazah instan tak akan cespleng jika yang diungkit-ungkit cuma hukum formal. Seperti kampanye narkoba, yang jadi sasaran bukan para pengedar. Sasaran kampanye adalah pengguna atau calon-calon pengguna. Kampanye narkoba tak pernah berbunyi: Jangan Edarkan Narkoba, Anda Akan Dihukum Berat. Kampanye narkoba selalu mendorong orang menjauhi narkoba. Say No To Drugs.&lt;br /&gt;     Karena itu, sasaran kampanye melawan ijazah instan harus meliputi banyak hal. Bukan hanya ancaman bui, namun harus pula menyentuh perbaikan institusi dan sistem pendidikan. Kampus-kampus ''kelas bawah'' didorong melakukan perbaikan, jika tidak, mereka harus out dari sistem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Yang susah adalah mengubah cara pandang masyarakat. Sekali lagi, masih banyak yang mendewa-dewakan ijazah, selembar surat yang dianggap bisa memperbaiki nasib.&lt;br /&gt;     Begitu tulisan tentang ijazah instan dimuat di Metropolis, sebuah panggilan telepon masuk ke ruang redaksi. Penelepon dari luar Surabaya. Dia mengatakan baru saja membaca hasil investigasi tim Jawa Pos tersebut. Sedikit ''ge-er'' kawan saya yang menerima telepon menantikan pujian atas berita tersebut. Ternyata, si penelepon menanyakan alamat kampus yang ditulis. Dia butuh ijazah dan ingin membeli secara instan.&lt;br /&gt;     Ealah, ngglethek. (dos@jawapos.co.id)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7723341115378919168-681017295754336786?l=doanwidhiandono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doanwidhiandono.blogspot.com/feeds/681017295754336786/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7723341115378919168&amp;postID=681017295754336786&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7723341115378919168/posts/default/681017295754336786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7723341115378919168/posts/default/681017295754336786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doanwidhiandono.blogspot.com/2008/11/tulisan-ini-dimuat-di-halaman.html' title='Ruma Sekola yang Saya Impiken'/><author><name>Doan Widhiandono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16646481805158330052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Y81rCXLmejs/STDHMJg1xwI/AAAAAAAAAAM/AGZouU20S9k/S220/BrownDoan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7723341115378919168.post-318169342116904963</id><published>2008-11-08T03:28:00.000-08:00</published><updated>2008-12-19T18:10:30.929-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menulis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ringan-Ringan Saja'/><title type='text'>Blog = Onani ? (Reload)</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tulisan ini saya buat tiga tahun lalu untuk blog saya yang ikut Friendster. Ditinjau dari umur, mungkin termasuk usang. Namun, dari sisi aktualitas, saya pribadi berpendapat, ini masih cukup aktual. Apalagi, kian banyak teman-teman saya yang ngeblog, dan di antara mereka, kian banyak pula yang onani... :)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;====================&lt;br /&gt;Definisi blog adalah suatu media web online yang digunakan untuk mengungkapkan dan mengekspresikan pikiran, emosi dan perilaku seseorang atau kelompok sebagai jawaban atas kebutuhan interaksi sosial dan aktualisasi diri untuk menunjukkan eksistensinya sebagai manusia dari waktu ke waktu. Kalimat di atas aku kutip dari Octave Ken Manungkarjono, dosen UGM yang aku cari lewat search engine &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;www.google.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nah, ada poin aktualisasi diri pada definisi itu. Artinya, penikmat terbesar blog ya si pembuat blog itu. Mungkin ada benarnya. Artinya, tak semua orang paham apa yang kita tulis dalam blog kita. Apalagi, jika yang kita tulis itu adalah pengalaman yang terlalu pribadi. Paling-paling yang ngerti hanya satu-dua orang saja kawan kita. Daripada membikin blog, kenapa nggak cerita langsung ke kawan sambil minum kopi, misalnya?&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jika yang kita cari hanyalah aktualisasi diri itu, mungkin blog itu hanya menjadi pemuas nafsu sesaat kita. Tanpa punya nilai manfaat untuk orang lain.&lt;br /&gt;Tetapi, ada juga poin interaksi sosial pada definisi blog di atas. Artinya, meskipun sedang memuaskan diri sendiri, kita tetaplah makhluk sosial di dunia maya. Eh mbok bikin blog yang juga bisa dinikmati orang lain, kira-kira begitu.&lt;br /&gt;Lalu onani? Di berbagai definisi, onani diartikan kira-kira begini: Perbuatan menyentuh dan merangsang alat kelamin diri sendiri (ingat: KELAMIN DIRI SENDIRI!! Bukan orang lain!) untuk mendapatkan kepuasan. Artinya, sedahsyat apapun onani yang kita lakukan, yang merasakan ya cuma kita. Orang lain tak bakal merasakan manfaatnya.&lt;br /&gt;Benarkah demikian? Nah ini juga yang menarik. Onani ternyata juga punya "nilai sosial" juga. Konon, (bukan konon sih sebenarnya, karena sudah terbukti   ) onani yang dilakukan dengan pasangan justru menjadi variasi yang menambah gairah seks. (padahal, kalau dengan pasangan kan bukan onani lagi? ya nggak)&lt;br /&gt;Jadi, mungkin seperti blog lah. Kalau dilakukan untuk kepuasan diri sendiri, orang lain tak banyak merasakan manfaatnya. Jadi, kalau bikin blog, usahakan mencari nilai-nilai manfaat bagi pembacanya. Dan jika onani, berusahalah agar orang lain sama-sama merasakan nikmatnya juga.&lt;br /&gt;Tetapi, jangan onani di muka sembarang orang lho. Bisa dijerat UU Pornografi dan Pornoaksi nanti. Bahkan, di rancangan RUU itu disebutkan, "melakukan gerakan tangan seperti masturbasi di muka umum" juga dilarang. Jadi, mulai sekarang, pakai celana dalam bersih. Agar jangan sampai kita menggaruk "itu" di muka umum. Bisa-bisa ditangkap karena pornoaksi. (*)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7723341115378919168-318169342116904963?l=doanwidhiandono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doanwidhiandono.blogspot.com/feeds/318169342116904963/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7723341115378919168&amp;postID=318169342116904963&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7723341115378919168/posts/default/318169342116904963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7723341115378919168/posts/default/318169342116904963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doanwidhiandono.blogspot.com/2008/11/blog-onani-reload.html' title='Blog = Onani ? (Reload)'/><author><name>Doan Widhiandono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16646481805158330052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Y81rCXLmejs/STDHMJg1xwI/AAAAAAAAAAM/AGZouU20S9k/S220/BrownDoan.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
